30.7 C
Jakarta
28 Desember 2024
Senja News
AlamNasionalNews

Banjir Demak Diduga Sebagai Tanda Kembalinya Selat Muria, Ini Kisah Selat yang Hilang Tersebut

Senja News di wilayah Demak- di Kecamatan Karanganyar kembali terendam banjir pada Ahad, 17 Maret 2024.

Lalu lintas di jalan tersebut kembali lumpuh. menggenangi jalan dan tak bisa dilalui .

Banjir Demak juga terjadi bulan lalu, Kamis, 8 Februari 2024, di lokasi yang sama.

Ketika itu banjir menggenangi Jalur Pantura serta pemukiman dan lahan di sekitarnya selama sepekan lebih.

Banjir yang terus berulang di wilayah itu disebut-sebut berhubungan dengan ,

sebuah bentang alam perairan yang pernah memisahkan pulau Muria dengan pulau Jawa.

Seiring berjalan waktu, selat perlahan semakin dangkal hingga air menyusut dan lama kelamaan selat itu hilang.

Banjir saat ini dirumorkan sebagai indikasi kembalinya selat Muria tersebut.

Lantas, bagaimana kisah Selat Muria, dilansir dari berbagai sumber inilah fakta-faktanya:

1. Selat Muria

Pada masa glasial, sekira 600.000 tahun yang lalu, beserta pegunungan kecil di Patiayam dulunya bergabung dengan dataran utama Pulau Jawa.

Hal itu terjadi karena saat itu suhu turun dalam waktu yang lama. Sehingga permukaan laut turun rata-rata 100 meter.

Namun pada interglasial, kondisi itu berbalik. Suhu bumi meningkat menyebabkan es mencair.

Alhasil volume air laut meningkat membuat dataran Muria dan Pulau Jawa terpisah oleh laut dangkal yang tidak terlalu lebar hingga menjadi selat.

2. Jalur yang Ramai

Dulunya, Selat Muria adalah jalur perdagangan dan transportasi yang ramai dilalui.

Selat itu menjadi jalan antara masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa dengan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau lainnya.

Karena adanya selat ini, masyarakat yang ingin bepergian antara Kudus dan Demak harus menggunakan kapal.

Keberadaan selat ini pulalah yang dahulu membuat Kerajaan Demak menjadi kerajaan maritim.

3. Hilangnya Selat Muria

Setelah abad ke-17, Selat Muria semakin dangkal sehingga kapal tidak dapat berlayar mengarunginya.

Pendangkalan terjadi karena saat itu terjadi perkembangan dataran aluvial di sepanjang pantai utara Jawa.

Meski demikian, pada musim perahu-perahu kecil masih bisa mengarungi selat itu dari Demak hingga Juwana.

Pada 1996, seorang peneliti bernama Lombard menjelaskan ada air laut dari Selat Muria yang masih tersisa sampai sekarang.

Air laut yang terperangkap di dataran Jawa itu kemudian dikenal dengan nama Bledug Kuwu.

4. Diduga Sebabkan Kemunduran Kerajaan Demak

Diduga Kerajaan Demak yang pernah berjaya pada abad ke-16 mengalami kemunduran karena pendangkalan yang terjadi di Selat Muria.

Karena pendangkalan itu, Demak yang mulanya berada di tepi Selat Muria kemudian berubah menjadi sebuah kota yang dikelilingi oleh daratan.

Setelah pendangkalan yang terjadi di Selat Muria, pelabuhan kerajaan itu kemudian berpindah ke Jepara.

Namun, sempat muncul kekhawatiran Selat Muria akan terbentuk lagi setelah terjadinya banjir yang melanda wilayah Kabupaten dan sekitarnya pada 2014.

5. Fosil Binatang Laut di Patiayam.

Salah satu bukti lain dari adanya Selat Muria adalah temuan fosil hewan laut di Situs Patiayam Kudus.

Di situs itu, ditemukan beberapa fosil hewan laut seperti moluska, ikan hiu, penyu, dan buaya. Diperkirakan, fosil-fosil itu sudah berumur di atas 800.000 tahun.

Tidak hanya itu juga ditemukan jejak sebuah hunian kuno dan beberapa temuan lainnya

seperti fragmen gerabah, keramik, dan perhiasan berbahan emas.

Dari adanya temuan-temuan tersebut, diduga Situs Medang dulunya merupakan hunian kuno yang letaknya berada di sisi selatan Selat Muria.

Baca juga

Rekomendasi

Saksi Ungkap Pemotor Tewas di Jakbar: Kepala Tertusuk Besi Separator

vina

Sudah Lansia, Jaksa Ringankan Tuntutan SYL

vina

Respons Bijak Suami Kiki Amalia Soal Tambah Momongan

vina

Moderator Debat Capres AS Tanya Akui Palestina, Ini Jawaban Trump

vina

Niat Jenguk Virgoun, Ibunda Datangi RSKO tapi Gagal Bertemu

vina

Isu Tak Benar Usik Ruben Onsu saat Masa Tenang dengan Sarwendah

vina
Memuat....