26.2 C
Jakarta
18 April 2024
Senja News
InternasionalNewsPolitik

Panggilan Perdamaian Internasional: Eskalasi Ketegangan di Gaza

Senja News – Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1983 berjudul “The Faithful Triangle: The United States, Israel, and the Palestinians,” cendekiawan Amerika Serikat Noam Chomsky menggambarkan kisah tragis tentang bagaimana sekitar 275 warga Palestina dibantai oleh Israel pada 3 November 1956.

Kejadian ini, dikenal sebagai Pembantaian Khan Yunis, tercatat dalam ketika pasukan Israel melakukan penggeledahan ke rumah.

Sembilan hari setelah pembantaian yang diabaikan oleh sejumlah negara adidaya pada masa itu, pasukan Israel kembali melakukan pembantaian di Kota Rafah, menewaskan setidaknya 111 warga dan pengungsi di kota paling selatan di Jalur .

Menurut saksi-saksi yang selamat yang tercatat di Wikipedia, pasukan bersenjata Israel di selatan Jalur Gaza mengumpulkan warga laki-laki berusia di atas 15 tahun.

Israel kemudian mendeklarasikan bahwa semua warga sipil secara kolektif bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan IDF, dan kemudian eksekusi dilakukan terhadap asal Gaza. Antara 1 November 1956 dan 7 Maret 1957, diperkirakan antara 930 dan 1.200 orang oleh tangan pasukan Israel.

Apakah ada anggota pasukan yang diadili atas kejadian pembantaian tersebut? Tidak ada. Nol.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya 66 tahun kemudian, peristiwa serupa terjadi lagi di mana IDF melakukan pembantaian di Kota Rafah yang berbatasan langsung dengan .

Meskipun beberapa bulan sebelumnya Israel mengusir penduduk dari Kota Gaza dan daerah utara Jalur Gaza, memerintahkan mereka untuk pindah ke “wilayah aman” di selatan, termasuk Kota Rafah.

Namun, setelah menghancurkan Gaza utara dan tengah, membuat warga kesulitan mendapatkan makanan sehari-hari, Israel mengumumkan rencana untuk melakukan serangan di Kota Rafah. IDF, yang mengklaim sebagai “pasukan paling bermoral di ,” melancarkan serangan di Kota Rafah yang telah menewaskan 67 warga pada hari Senin, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.

Israel, seperti biasanya, membela tindakannya dengan mencari pejuang Hamas. Namun, jika warga sipil menjadi korban, mereka mengklaim bahwa Hamas menggunakan mereka sebagai perisai hidup. IDF menggunakan amunisi dan senjata yang sebagian besar diperoleh dari bantuan militer negara-negara Barat. Anak berusia 6 tahun

Setiap nyawa warga sipil yang hilang di Jalur Gaza, baik di utara maupun selatan, sangat berharga. Untuk artikel ini, kita akan menyoroti kisah Hind Rajab, seorang anak berusia enam tahun, yang kehidupannya diambil oleh pasukan Israel.

Pada 29 Januari lalu, bersama keluarganya, Hind tengah mengungsi dari Kota Gaza yang tengah diserang oleh pasukan Israel.

Kendaraan mereka ditembaki oleh tank Israel di sebelah barat Kota Gaza. Secara ajaib, Hind selamat dan berusaha menelepon lembaga bantuan Bulan Sabit Merah menggunakan ponselnya, memohon pertolongan.

Rekaman panggilan Hind menunjukkan tekanan dan ketakutan yang luar biasa, namun kemudian terdengar teriakan dan suara tembakan. Panggilan itu terputus.

Salah satu ambulans Bulan Sabit Merah merespons panggilan Hind dan bergegas untuk menolongnya. Namun, ambulans tersebut tidak pernah kembali.

Baru pada Sabtu (10/2), 12 hari setelah panggilan Hind, Bulan Sabit Merah “mendapatkan izin” dari otoritas Israel untuk sampai ke lokasi Hind.

Tragisnya, mereka menemukan Hind dan keluarganya sudah meninggal. Kaca mobil pecah dan terdapat lubang peluru di kendaraan tersebut. Tidak jauh dari sana, habis sebuah kendaraan. Kendaraan itu adalah ambulans yang seharusnya menjemput Hind 12 hari sebelumnya. Pengemudi dan awak ambulans itu tewas oleh pasukan Israel. Pernyataan Bulan Sabit Merah menyatakan bahwa IDF dengan sengaja menargetkan kru mereka, meskipun sudah berkoordinasi dengan Israel untuk menjemput Hind.

Jadi, pada 29 Januari, Bulan Sabit Merah sudah meminta izin kepada otoritas Zionis untuk menjemput seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang ketakutan. Namun, setelah izin diberikan, mereka menjadi target empuk bagi tank IDF.

Apakah ada anggota pasukan Zionis yang diadili atas kejadian pembantaian tersebut? Tidak ada. Nol.

Peringatan dan Respons

Sebelum Israel memutuskan untuk melakukan serangan darat di Rafah, berbagai pihak sudah memberikan peringatan agar tindakan tersebut dihindari. Organisasi Amnesty International memperingatkan potensi dan genosida sebagai dampak dari serangan itu.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mengingatkan tentang dampak luar biasa yang mungkin terjadi jika militer Israel menyerang Rafah.

Namun, semua peringatan tersebut diabaikan. Perdana Menteri bahkan telah memberitahu Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken bahwa serangan ke Rafah akan dilakukan.

Padahal, sebelumnya pada Rabu (7/2), Gedung Putih telah memberikan peringatan bahwa serangan Israel di Rafah “akan menjadi bencana” bagi warga Palestina.

Tidak mengherankan jika pada hari Senin, Hamas menyatakan bahwa serangan Israel di selatan Jalur Gaza hanyalah kelanjutan dari aksi genosida.

Melalui platform telegram, Hamas mengingatkan bahwa Israel mengabaikan putusan Mahkamah Internasional (ICJ), yang mendesak negara Zionis itu mencegah setiap tindakan yang dapat dikategorikan sebagai tindakan genosida.

Hamas menyebut pemerint

Pos Terkait

Bandara Dubai Terendam Setelah Uni Emirat Arab Dilanda Banjir Langka

Wahyuni Wahyuni

Taylor Swift Tolak Tawaran Manggung Rp145 Miliar di Uni Emirat Arab

Wahyuni Wahyuni

Upah Tak Dibayar, Motif Tukang Kebun Bunuh dan Mencor Pria di Bandung Barat

Wahyuni Wahyuni

Polisi Periksa Pacar Selebgram Jakarta Selatan yang Bunuh Diri Sambil Live IG

Wahyuni Wahyuni

Sanksi Penggunaan Pelat TNI Palsu dalam Kasus Sopir Toyota Fortuner yang Arogan di Tol

Wahyuni Wahyuni

Olivia Nathania, Anak Nia Daniaty Bebas dari Penjara dalam Kasus CPNS Bodong

Wahyuni Wahyuni
Memuat....